MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Mencintai negeri tidak selalu berarti mencintai orang-orang yang sedang berkuasa di dalamnya. Negeri adalah rumah bersama, sementara pemerintahan hanyalah pihak yang untuk suatu masa diberi amanah untuk mengurus rumah itu. Perbedaan antara keduanya sering kali menjadi kabur ketika seseorang dihadapkan pada pilihan sulit: tetap berdiri membela tanah air meskipun tidak menyukai kebijakan dan perilaku penguasanya, atau menarik diri karena kecewa kepada mereka yang memegang kekuasaan.
Kisah tentang seorang kesatria besar dalam epos Ramayana bernama Kumbokarno; memberikan pelajaran yang tajam tentang dilema tersebut. Ia adalah sosok yang mengetahui dengan jelas bahwa perang yang akan dihadapinya bukanlah perang yang sepenuhnya benar. Ia memahami kesalahan yang dilakukan oleh penguasa negerinya, bahkan tidak menyetujui keputusan yang menyeret negeri itu ke dalam pertikaian. Ia tidak menutup mata terhadap kekeliruan keluarganya sendiri, tidak pula membenarkan tindakan penguasa hanya karena hubungan darah dan kedudukan.
Namun ketika ancaman perang datang dan negeri yang dicintainya berada di ambang kehancuran, ia memilih berdiri di garis depan. Keputusannya bukan karena ia tiba-tiba menyukai penguasa, melainkan karena ia mencintai negerinya. Di situlah letak kebesaran sekaligus tragedi pilihannya. Ia mampu memisahkan kecintaannya kepada negeri dari ketundukannya kepada penguasa.
Negeri bukan milik penguasa, sebagaimana rumah bersama bukan milik kepala rumah tangga. Kekuasaan hanya sementara, sedangkan tanah air jauh lebih panjang umurnya daripada mereka yang silih berganti mendudukinya. Karena itu, mencintai negeri tidak semestinya diukur dari seberapa keras seseorang memuji pemerintahannya. Justru dalam banyak keadaan, kecintaan kepada negeri dapat muncul dalam bentuk yang lebih pahit: berani mengkritik ketika kebijakan menyimpang, berani mengingatkan ketika kekuasaan mulai melampaui batas, dan tetap bersedia berkorban ketika keselamatan negeri dipertaruhkan.
Kumbokarno memberi gambaran bahwa loyalitas kepada tanah air tidak sama dengan loyalitas buta kepada penguasa. Ia tidak harus membenarkan kesalahan hanya karena kesalahan itu dilakukan oleh saudaranya sendiri. Ia juga tidak perlu mengubah keyakinannya hanya agar tampak setia. Ia tahu ada keputusan yang keliru, tetapi ia juga tahu bahwa kehancuran negeri tidak boleh menjadi harga yang dibayar hanya karena rakyat kecewa kepada pemimpinnya.
Pada kehidupan berbangsa, pelajaran semacam ini terasa semakin penting. Pemerintahan dapat berganti melalui pemilihan, pergantian kekuasaan, atau perubahan politik, tetapi negeri tetap menjadi tempat rakyat menggantungkan masa depan. Karena itu, ketika seseorang tidak menyukai pemerintah, ia tidak otomatis menjadi pembenci negaranya. Sebaliknya, orang yang mengkritik pemerintah dengan niat menjaga kepentingan rakyat justru dapat menunjukkan bentuk kecintaan yang lebih dewasa.
Masalahnya muncul ketika kebencian kepada penguasa berubah menjadi kebencian kepada negeri sendiri, atau ketika kecintaan kepada pemerintah berubah menjadi pembenaran terhadap segala sesuatu yang dilakukan penguasa. Kedua sikap itu sama-sama berbahaya. Yang pertama membuat orang rela melihat rumahnya sendiri runtuh hanya karena tidak menyukai orang yang sedang mengurusinya, sedangkan yang kedua membuat orang rela membiarkan rumah itu rusak demi mempertahankan pengurusnya.
Keduanya kehilangan satu hal yang paling penting: kesadaran bahwa negara jauh lebih besar daripada pemerintah yang sedang berkuasa. Karena itu, mencintai negeri membutuhkan kedewasaan untuk mengatakan bahwa pemerintah bisa salah, tetapi negeri tetap harus dijaga; pemimpin bisa berganti, tetapi rakyat harus tetap dilindungi; kebijakan bisa ditolak, tetapi persatuan dan keselamatan bersama tidak boleh dikorbankan.
Kesatria dalam kisah lama itu pada akhirnya menghadapi kematian dengan pilihan yang penuh pertentangan. Ia berperang bukan karena seluruh keputusan penguasanya benar, melainkan karena ia tidak ingin tanah yang dicintainya ditinggalkan tanpa pembelaan. Pilihannya mengajarkan bahwa cinta kepada negeri kadang menuntut seseorang berdiri di samping sesuatu yang tidak sepenuhnya ia setujui, sambil tetap menyimpan keberanian untuk mengakui bahwa yang salah memang salah.
Inilah bentuk patriotisme yang jauh lebih sulit daripada sekadar meneriakkan slogan tentang tanah air. Patriotisme bukan kepatuhan kepada seseorang, melainkan kesetiaan kepada sesuatu yang lebih besar daripada seseorang. Pemerintahan boleh dikritik, kebijakan boleh ditolak, bahkan penguasa boleh diganti, tetapi negeri tidak boleh ditinggalkan.
Sebab yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukanlah siapa yang pernah berkuasa, melainkan seperti apa negeri yang kita tinggalkan setelah kekuasaan itu berlalu. Maka mencintai negeri memang wajib, bahkan ketika kita tidak menyukai pemerintahannya. Tetapi cinta itu tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan kekuasaan secara membabi buta. Cinta kepada negeri justru harus membuat kita cukup berani untuk membela yang benar, cukup kritis untuk menolak yang keliru, dan cukup setia untuk tetap menjaga rumah bersama meskipun orang yang sedang memegang kuncinya bukanlah orang yang kita sukai.
Salam Merdeka
Tulis Komentar