MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Univeritas Malahayati
Ada masa ketika kebenaran tidak lagi dipersoalkan karena benar atau salah, melainkan karena siapa yang mengucapkannya. Pada titik itu, manusia tidak sedang menghadapi persoalan pengetahuan semata, tetapi persoalan keberadaan. Apa arti menjadi manusia ketika suara hati harus berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, kenyamanan, dan ketakutan?. Apa arti hidup jika seseorang memilih diam hanya agar tetap diterima?. Dan, apa arti kebebasan jika manusia tidak berani mempertanggungjawabkan kebenaran yang diyakininya?.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa seseorang memasuki perjalanan sunyi seorang resi. Resi di sini bukan sosok yang mengasingkan diri dari dunia, melainkan manusia yang berani mengambil jarak dari kegaduhan dunia untuk melihat kenyataan secara lebih jernih. Ia tidak lari dari kehidupan. Justru ia masuk lebih dalam ke dalamnya, sebab ia menyadari bahwa kehidupan yang kehilangan keberanian untuk mempertanyakan dirinya sendiri pada akhirnya hanya menjadi rutinitas yang kehilangan makna.
Di pandang dari perspektif ontologis, manusia tidak cukup dipahami sebagai makhluk yang hidup, bekerja, berproduksi, lalu mati. Manusia adalah makhluk yang mempertanyakan keberadaannya sendiri. Ia memiliki kesadaran bahwa hidupnya mengandung pilihan, dan setiap pilihan mengungkapkan siapa dirinya. Karena itu, diam pun merupakan pilihan. Membiarkan ketidakbenaran berlangsung bukan tindakan yang netral. Ketika seseorang mengetahui adanya ketidakadilan tetapi memilih diam karena takut kehilangan posisi, kenyamanan, atau penerimaan sosial, sesungguhnya ia sedang menentukan bentuk keberadaannya sendiri.
Di sinilah perjalanan menuju kebenaran menjadi perjalanan yang sunyi. Sebab masyarakat sering kali lebih nyaman terhadap manusia yang patuh daripada manusia yang bertanya. Sistem lebih menyukai suara yang mengafirmasi daripada suara yang mengoreksi. Kerumunan lebih mudah menerima kebisingan yang menghibur daripada kesunyian yang memaksa mereka bercermin. Maka orang yang memilih mengatakan apa yang diyakininya benar dapat dengan mudah ditempatkan sebagai pengganggu, pembangkang, atau manusia yang tidak tahu diri.
Ironinya, zaman yang mengaku menjunjung kebebasan sering justru menciptakan bentuk-bentuk baru dari pembungkaman. Tidak selalu melalui larangan dan kekerasan, tetapi melalui pengabaian, pelabelan, pengucilan, dan pembentukan opini. Seseorang tidak harus dibungkam secara langsung; cukup dibuat merasa bahwa suaranya tidak penting. Cukup dibuat percaya bahwa kebenaran tidak ada gunanya jika tidak memiliki banyak pengikut.
Di tengah keadaan seperti itu, seorang manusia dapat merasa seperti sedang berteriak kepada pasir. Suaranya keluar, tetapi tidak segera mengubah apa pun. Ia berbicara tentang kebenaran, tetapi kepentingan memiliki suara yang lebih keras. Ia berbicara tentang keadilan, tetapi kenyamanan sering lebih menarik daripada keberanian. Ia berbicara tentang martabat manusia, tetapi manusia sendiri kadang bersedia menukarkan martabatnya dengan keuntungan.
Akan tetapi, secara ontologis, keberhasilan bukan ukuran terakhir dari kebenaran. Kebenaran tidak menjadi benar karena mendapatkan suara terbanyak. Nilai moral suatu tindakan juga tidak otomatis menjadi tinggi hanya karena menghasilkan keuntungan. Justru ketika hasil tidak menjanjikan apa-apa, pilihan untuk tetap benar memperlihatkan kualitas terdalam dari keberadaan manusia. Di sanalah manusia membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar makhluk yang bereaksi terhadap keadaan, tetapi subjek yang mampu menentukan sikap terhadap keadaan.
Penulis merasakan jalan itu bukan sejak awal sebagai sebuah perjalanan. Penulis hanya merasa sedang melakukan apa yang harus dilakukan. Baru kemudian, setelah seorang jurnalis terkenal membisikkan kalimat sederhana, “Teruskan langkahmu, Guru,” kesadaran itu datang: ternyata selama ini jalan yang ditempuh memang jalan sunyi.
Bisikan tersebut bukan sekadar penghormatan. Ia seperti teguran eksistensial. Teruskan, sebab tidak semua yang benar akan segera mendapat tepuk tangan. Teruskan, sebab manusia tidak boleh menyerahkan ukuran kebenaran kepada kerumunan. Teruskan, sebab ketika seseorang berhenti bersuara hanya karena tidak didengar, ia bukan sekadar kehilangan keberanian, tetapi mulai kehilangan dirinya sendiri.
Mungkin inilah hakikat perjalanan seorang resi: semakin jauh ia berjalan menuju kebenaran, semakin sedikit alasan baginya untuk mencari pengakuan. Ia tidak berjalan untuk menjadi pusat perhatian, tetapi untuk menjaga agar dirinya tidak menjadi bagian dari kebohongan yang sedang ia saksikan.
Kesunyian bukanlah kekalahan. Kesunyian adalah ruang tempat keberadaan manusia diuji tanpa saksi. Di sanalah seseorang bertanya kepada dirinya sendiri: jika tidak ada yang memuji, apakah aku masih akan berkata benar? Jika tidak ada yang mengikuti, apakah aku masih akan berjalan? Jika kebenaran membuatku sendirian, apakah aku tetap memilihnya?. Jika jawabannya “ya”, maka perjalanan itu belum selesai. Sebab seorang resi tidak diukur dari banyaknya orang yang berada di belakangnya, melainkan dari kesetiaannya untuk tetap berjalan ketika tidak seorang pun terlihat berjalan bersamanya.
Salam Sunyi
Tulis Komentar