TAKBIR DI PINGGIR KOTA

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Selesai melaksanakan sholat subuh, karena hari itu adalah Hari Raya Idhul Qurban; maka diputuskan untuk mencari tempat sholat. Selama ini pilihan jatuh pada masjid besar, atau lapangan luas; namun kini ada pertanyaan yang mengusik hati “bagaimana saudara-saudara kita yang ada di tepi kota ini ber-Idhul Qurban”. Maka diputuskan untuk mencari masjid kecil tepi jalan dipinggiran kota.

Tidak ada spanduk besar. Tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga. Tidak ada kendaraan mewah berjejer seperti parade kemenangan. Hanya langkah-langkah pelan orang-orang yang datang membawa sajadah lusuh dan wajah yang sudah akrab dengan rasa kalah.

Anak-anak menggenggam tangan ayahnya yang telapak tangannya kasar oleh pekerjaan yang tidak pernah cukup memberi makan. Ibu-ibu mengenakan pakaian terbaik yang mereka punya, meski warna kainnya telah pudar dimakan waktu dan deterjen murahan. Para lelaki saling menunduk memberi salam, dengan mata yang tampak letih oleh hidup yang terlalu sering meminta mereka mengalah. Jumlah mereka bahkan tidak sampai seratus orang. Saf-saf shalat terbentuk dengan renggang, meninggalkan ruang kosong yang terasa lebih nyaring daripada takbir.

Tidak ada kambing yang mengembik. Tidak ada sapi yang dituntun sambil dikerubungi anak-anak kecil dengan wajah riang. Tanah di depan masjid tetap bersih, terlalu bersih, seperti halaman yang lupa bahwa hari itu seharusnya menjadi hari pengorbanan dan kegembiraan bersama. Hanya beberapa sandal tua bertumpuk di dekat tempat wudhu, dan aroma tanah debu. 

Namun justru di tempat seperti itulah kesedihan terasa paling jujur. Khatib berbicara dengan suara yang sesekali pecah oleh pengeras suara tua. Tentang keikhlasan. Tentang kesabaran. Tentang seorang ayah yang rela menyerahkan anaknya demi kepatuhan kepada langit. Orang-orang mendengarkan dengan kepala tertunduk, tetapi mungkin dalam hati mereka masing-masing sedang memikirkan hal lain: harga beras yang naik, pekerjaan yang hilang, tagihan listrik yang menunggu, atau anak yang belum mampu dibelikan sepatu baru untuk sekolah. Entahlah…..apalagi.  Hari raya seolah menjadi cermin yang terlalu terang bagi mereka yang hidupnya redup.

Ketika kotak amal diedarkan, tangan-tangan bergerak lambat. Ada yang memasukkan uang duaribuan yang sudah dilipat berkali-kali. Ada yang merogoh saku terlalu lama, seakan sedang bernegosiasi dengan kebutuhan rumah yang belum selesai. Ada pula yang hanya menatap kotak itu lewat dengan mata kosong, bukan karena tidak ingin memberi, tetapi karena hidup telah lebih dulu mengambil hampir seluruh yang mereka punya. Pada akhirnya, mungkin tidak lebih dari seperlima jamaah yang mengisinya.


Tetapi siapa yang bisa benar-benar mengukur kemurahan hati ?. Barangkali orang yang memberi seribu rupiah dari sisa uang belanja hariannya lebih dekat kepada makna pengorbanan daripada mereka yang menyumbang besar tanpa pernah merasakan lapar. Sebab kemiskinan sering kali membuat manusia memahami nilai sesuatu dengan cara yang jauh lebih dalam. Mereka tahu rasanya kehilangan sebelum memiliki. Mereka mengerti bagaimana beratnya melepaskan, bahkan ketika yang dilepaskan hanyalah recehan kecil yang sebenarnya masih ingin disimpan.

Setelah shalat usai, jamaah tidak segera pulang. Sebagian duduk diam di teras masjid, menikmati angin pagi yang dingin dan matahari yang mulai meninggi perlahan. Percakapan mereka pendek-pendek. Tentang kesehatan. Tentang pekerjaan serabutan. Tentang anak-anak yang belum bisa bersepatu baru. Tidak ada tawa besar. Tidak ada semarak yang melimpah. Hari raya berjalan seperti hari biasa yang dipaksa untuk mengenakan pakaian suci.

Di ibu kota, pada jam yang hampir bersamaan, seorang pemimpin negara bersiap terbang melintasi langit. Iring-iringan kendaraan melaju di jalan yang dikosongkan. Pintu-pintu protokol dibuka. Kamera-kamera menyorot. Mikrofon-mikrofon menunggu kalimat resmi tentang kepentingan bangsa, hubungan diplomatik, atau agenda internasional yang terdengar mulia dan penting. Sebuah keberangkatan besar sedang berlangsung atas nama negara.

Di satu sisi, ada perjalanan dengan pesawat dan sambutan resmi. Di sisi lain, ada masjid kecil tanpa hewan kurban dan kotak amal yang nyaris kosong. Dua dunia hidup dalam waktu yang sama, di bawah langit yang sama, tetapi seperti tidak pernah benar-benar saling melihat. Yang satu berbicara tentang masa depan negara dengan istilah-istilah megah yang sulit dimengerti aapalagi dipahami; yang lain hanya berharap esok dapur tetap mengepul.

Kadang negeri ini terasa seperti rumah besar dengan ruang-ruang yang tidak saling terhubung. Di ruang depan, lampu gantung menyala terang dan tamu-tamu penting berdatangan. Tetapi di ruang belakang, ada orang-orang yang makan dalam diam sambil menahan malu karena lauk hari itu terlalu sederhana. Anehnya, suara dari ruang belakang jarang sekali terdengar sampai ke meja utama.

Masjid kecil di pinggir kota itu mungkin tidak tercatat dalam berita. Tidak ada wartawan yang datang meliputnya. Tidak ada siaran langsung yang menayangkan wajah-wajah letih jamaahnya. Namun justru di tempat semacam itulah negeri ini sebenarnya berdenyut: pada orang-orang yang tetap datang bersujud meski hidup mereka nyaris tidak menyisakan apa-apa; pada ibu-ibu yang tetap menyetrika baju anaknya untuk shalat hari raya walau harus berhemat minyak goreng; pada lelaki-lelaki yang tetap tersenyum meski diam-diam kehilangan pekerjaan bulan lalu.

Mereka adalah suara lirih yang menjaga dunia tetap waras. Dan mungkin Tuhan lebih lama tinggal di masjid kecil itu daripada di ruang-ruang megah yang penuh pidato. Sebab kesunyian orang miskin memiliki gema yang berbeda. Ia tidak meledak. Ia tidak menuntut. Ia hanya bertahan. Tetapi justru karena itulah ia terasa begitu menyayat. Di pagi hari raya yang seharusnya penuh kemenangan, mereka tetap datang membawa kekalahan hidup masing-masing, lalu meletakkannya diam-diam di hadapan langit. Tanpa protes. Tanpa woro-woro. Tanpa headline. Tanpa diketahui dunia.

Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)