Wartawan yang Terlalu Terlibat

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh : Majid Lintang 


Di redaksi, semua orang sepakat: jurnalisme investigasi itu berbahaya.


Yang tidak semua orang sadari: yang paling berbahaya bukan narasumbernya… tapi wartawannya sendiri kalau terlalu niat.


Itulah yang terjadi pada Faris.


“Faris, kamu nyamar ya. Masuk ke jaringan itu. Kumpulkan data,” kata editornya, Mbak Lila.


“Siap, Mbak.”

“Jangan terlalu larut.”


Faris mengangguk mantap.


Dalam hatinya: Saya profesional. Saya tahu batas.

Kalimat itu… akan ia sesali.


Kasusnya sederhana.

Diduga ada praktik jual beli barang ilegal di pasar malam.


Faris harus menyamar sebagai pedagang kecil.

Ia ganti pakaian. Pakai topi. Bawa gerobak pinjaman.


Hari pertama:

Ia hanya mengamati.


Hari kedua:

Ia mulai ngobrol.


Hari ketiga:

Ia mulai dipercaya.


Hari keempat…


Ia mulai menikmati.

“Mas Faris—eh, maksud saya… Mas ‘Bambang’—ini stok baru ya?” tanya seorang pembeli.


Faris tersenyum.

“Iya, barangnya bagus.”

Ia berhenti.


Dalam pikirannya:

Lho… kok saya jualan beneran?


Seminggu berlalu.


Faris bukan lagi wartawan yang menyamar.

Ia… sudah jadi pedagang.

Ia punya pelanggan tetap.

Punya langganan kopi.

Bahkan ikut arisan pedagang.


Suatu malam, Mbak Lila menelepon.

“Faris, progres?”

“Baik, Mbak. Saya sudah sangat dalam.”

“Dalam data?”


Faris diam.

“Dalam… komunitas, Mbak.”

“Data dapat?”


Faris melihat catatannya.

Isinya:

Harga barang

Jam buka lapak

Resep mie instan versi pedagang

Ia menelan ludah.


“Masih… proses, Mbak.”


Hari kesepuluh, sesuatu terjadi.


Ada razia.

Semua panik.

Pedagang berlarian.


Faris ikut lari.

Bukan karena menyamar.

Tapi karena refleks.


“Barang diamankan!” teriak petugas.


Faris berhenti.

Menatap gerobaknya.

Menatap barang-barangnya.


Lalu sadar…

Ini bukan properti. Ini… dagangan saya.


Ia ikut diamankan.

Sebagai… pelaku.


Di kantor polisi, Faris duduk.

Masih pakai topi.

Masih dalam peran.


Petugas bertanya:

“Nama?”


Faris hampir menjawab “Faris”.

Tapi refleks berkata:

“Bambang.”

Ia membeku.


Saya… baru saja berbohong ke polisi… demi liputan saya sendiri.


Sementara itu, di redaksi…


Mbak Lila panik.

“Faris hilang!”

“Terakhir di mana?”

“Di lokasi investigasi!”

“Jangan-jangan dia terlalu dalam…”

Semua saling menatap.


Satu kalimat muncul di udara:

“Dia… jadi bagian dari kasus?”


Keesokan harinya, berita mulai beredar:

“Puluhan Pedagang Ilegal Diamankan dalam Razia.”


Di dalamnya… ada foto.

Dan di foto itu…


Faris.

Dengan topi.

Dengan wajah bingung.

Dengan status: pelaku.


Di kantor polisi, Faris akhirnya mengaku.

“Saya wartawan.”

Petugas menatapnya.

“Bukti?”


Faris mengeluarkan kartu pers.

Petugas melihat.

Lalu melihat Faris.

Lalu melihat foto di berita.

“Jadi… kamu meliput… diri sendiri?”


Faris mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”


Petugas menghela napas.

“Ini pertama kali saya tangkap wartawan… yang terlalu sukses menyamar.”


Faris dibebaskan.

Dengan catatan.

Dan sedikit rasa malu yang tidak bisa dicuci.


Ia kembali ke kantor.


Disambut tatapan campur aduk:

lega

heran

dan sedikit ingin tertawa


Mbak Lila mendekat.

“Faris.”

“Iya, Mbak…”

“Kamu dapat datanya?”


Faris mengangguk.

“Sangat lengkap, Mbak.”

“Bagus.”

“Terlalu lengkap.”


Ia mulai menulis.

Judul:

“Ketika Wartawan Menjadi Bagian dari Kasus.”


Ia menulis dengan jujur:

bagaimana ia menyamar

bagaimana ia larut

bagaimana ia akhirnya tertangkap

Lalu sampai di bagian wawancara.

Ia berhenti.


Berpikir.


Lalu… menulis:

“Dalam wawancara eksklusif, salah satu pelaku menyatakan bahwa ia tidak menyadari kapan batas antara peran dan realitas mulai kabur.”


Ia berhenti lagi.

Menatap layar.

“Ini… saya.”


Ia lanjut:

“Pelaku juga mengaku sempat menikmati peran tersebut, hingga lupa tujuan awalnya.”


Ia mengangguk.

“Ini juga saya.”


Ia kirim ke Mbak Lila.

Balasan datang cepat.

“Ini kuat.”


Faris tersenyum.


Lalu pesan berikutnya:

“Tapi…”


Ia langsung tegang.

“…wawancaranya bagus. Narasumbernya jujur banget.”


Faris menghela napas.

“Iya, Mbak… soalnya dia tidak bisa bohong ke dirinya sendiri.”


Berita itu tayang.

Viral.


Komentar berdatangan:

“Ini dedikasi atau kelupaan?”

“Metode jurnalistik baru: jadi tersangka.”

“Next level: wawancara diri sendiri.”


Faris membaca semuanya.

Sambil tersenyum tipis.


Beberapa hari kemudian, ia dipanggil lagi.

“Faris, ada tugas baru,” kata Mbak Lila.


Faris langsung waspada.

“Nyamar lagi, Mbak?”

“Iya.”

Faris menelan ludah.

“Kasus apa?”


Mbak Lila menjawab santai:

“Warung makan yang diduga pakai sambal terlalu pedas.”


Faris diam.

Lama.

Sangat lama.


Lalu berkata pelan:

“Mbak… kalau saya keterlibatan lagi… saya bisa jadi pelanggan tetap.”


Mbak Lila tersenyum.

“Itu… risiko profesi.”


Faris berjalan keluar.

Kali ini lebih hati-hati.

Ia menatap kartu persnya.


Lalu berbisik:

“Faris, ingat… kamu wartawan.”

Ia berhenti sejenak.


Lalu menambahkan:

“…bukan karakter utama yang kebablasan.”**”

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)