MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Wayang selalu menarik karena ia tidak sekadar menghadirkan bayangan manusia di atas layar, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kehidupan memiliki peran, konflik, tujuan, dan konsekuensi. Seorang kesatria tidak muncul tanpa alasan, seorang penguasa tidak duduk di singgasana tanpa kepentingan, dan seorang penasehat tidak berbicara tanpa membawa pertimbangan tertentu. Semua bergerak dalam sebuah lakon yang memungkinkan penonton memahami hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Karena itu, yang membuat sebuah pertunjukan wayang bermakna bukan hanya kepiawaian dalang menggerakkan tokoh, melainkan kemampuan menjaga agar setiap gerakan tetap memiliki hubungan dengan cerita yang sedang dimainkan.
Bayangkan jika sebuah pertunjukan berlangsung tanpa lakon yang jelas. Tokoh keluar masuk panggung, posisi mereka berubah, percakapan terus berlangsung, tetapi jalan ceritanya tidak pernah benar-benar diketahui. Hari ini seorang tokoh diposisikan sebagai pahlawan, besok ia berada di pihak yang berbeda. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai prinsip dapat berubah menjadi kompromi, sementara keputusan yang kemarin dinilai keliru tiba-tiba dijelaskan sebagai strategi baru. Penonton tetap diminta percaya bahwa semuanya berjalan sesuai rencana, meskipun mereka tidak pernah memperoleh gambaran yang utuh mengenai rencana tersebut. Gambaran seperti itulah yang semakin sering terasa dalam perjalanan negeri ini.
Perubahan arah sebenarnya bukan persoalan. Sebuah negara tidak mungkin hidup dengan kebijakan yang beku karena keadaan sosial, ekonomi, teknologi, dan hubungan antarnegara terus bergerak. Pemimpin yang rasional justru harus mampu mengevaluasi keputusan dan memperbaiki kebijakan ketika kenyataan menunjukkan adanya kekeliruan. Yang menjadi masalah adalah ketika perubahan tidak lagi dapat dibaca sebagai penyesuaian menuju tujuan yang sama, melainkan terlihat seperti perpindahan tujuan itu sendiri. Ketika arah berganti terlalu sering tanpa penjelasan yang meyakinkan, rakyat tidak hanya kehilangan kepastian tentang kebijakan, tetapi juga kehilangan kepercayaan terhadap kompas yang digunakan oleh kekuasaan.
Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan. Kekuasaan dapat bekerja melalui bahasa, informasi, simbol, citra, dan kemampuan menentukan apa yang dianggap sebagai kenyataan. Dalam kehidupan politik modern, sesuatu dapat menjadi benar karena terus-menerus ditampilkan sebagai benar. Keberhasilan dapat dihadirkan melalui angka, pembangunan dapat dihadirkan melalui gambar, kepedulian dapat dihad irkan melalui pidato, dan kritik dapat diredam dengan menciptakan narasi tandingan. Masyarakat akhirnya tidak hanya berhadapan dengan kenyataan, tetapi juga dengan berbagai versi kenyataan yang diproduksi dan diperebutkan oleh kekuasaan.
Di tengah keadaan itu, politik mudah berubah menjadi panggung representasi. Yang penting bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana tindakan tersebut terlihat. Sebuah kebijakan harus memiliki citra keberhasilan sebelum masyarakat sempat merasakan hasilnya. Sebuah keputusan harus memiliki alasan yang terdengar masuk akal meskipun alasan tersebut baru ditemukan setelah keputusan dibuat. Politik kemudian menjadi semakin dekat dengan seni mengelola persepsi, sementara kenyataan hidup rakyat sering berada di luar kamera.
Rakyat tentu memiliki pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya ditutupi oleh bahasa politik. Mereka mengetahui harga kebutuhan sehari-hari, merasakan sulitnya mencari pekerjaan, menghadapi biaya pendidikan, memikirkan masa depan anak, dan menyaksikan perubahan lingkungan di sekitar mereka. Bagi rakyat, negara bukanlah grafik atau slogan. Negara hadir dalam bentuk biaya hidup, pelayanan publik, hukum yang mereka hadapi, kesempatan yang mereka peroleh, dan rasa aman yang mereka rasakan. Ketika pengalaman tersebut terus berbeda dengan gambaran yang disampaikan dari atas panggung, jarak antara rakyat dan kekuasaan semakin melebar.
Pada kondisi itulah sinisme tumbuh. Masyarakat mulai menganggap bahwa setiap janji memiliki masa berlaku, setiap kebijakan memiliki kemungkinan dibalikkan, dan setiap pernyataan dapat berubah ketika keadaan politik berubah. Mereka tidak lagi marah karena telah terlalu sering melihat perubahan. Mereka menjadi terbiasa. Kondisi ini jauh lebih berbahaya daripada kritik yang keras karena masyarakat yang terbiasa dengan ketidakjelasan dapat kehilangan harapan bahwa politik memang mampu memperbaiki kehidupan bersama.
Sebuah negara dapat memiliki pemerintahan yang aktif, institusi yang lengkap, aturan yang terus dibuat, dan pembangunan yang terus berlangsung, tetapi tetap mengalami krisis arah. Banyaknya aktivitas tidak membuktikan adanya tujuan. Kecepatan bergerak tidak selalu berarti kemajuan. Sebuah kapal dapat berlayar sangat cepat, tetapi jika tidak memiliki tujuan yang jelas, kecepatannya hanya akan mempercepat jarak dari pelabuhan yang seharusnya dituju.
Karena itu, yang dibutuhkan dari kepemimpinan bukanlah kemampuan untuk selalu terlihat benar. Pemimpin dapat salah, dapat mengubah strategi, dan dapat mengakui bahwa sebuah keputusan perlu diperbaiki. Yang diperlukan adalah konsistensi terhadap tujuan dan keberanian menjelaskan setiap perubahan kepada rakyat. Prinsip dapat dipertahankan meskipun cara mencapainya berubah. Visi dapat tetap dijaga meskipun kebijakan harus disesuaikan dengan keadaan.
Wayang membutuhkan lakon agar setiap gerakan memiliki arti. Negara juga membutuhkan visi agar setiap kebijakan memiliki arah. Jika lakon hilang, dalang mungkin masih mampu menggerakkan wayang dengan sangat terampil, tetapi penonton tidak lagi memahami cerita yang sedang berlangsung. Begitu pula dengan sebuah bangsa yang terlalu sering menyaksikan perubahan arah tanpa penjelasan yang terang. Pemerintahan tetap berjalan, kekuasaan tetap bekerja, dan pembangunan tetap berlangsung, tetapi rakyat semakin sulit menemukan jawaban atas pertanyaan yang paling mendasar dalam kehidupan bernegara: apa tujuan bersama yang sedang kita perjuangkan dan untuk siapa seluruh perjalanan ini dilakukan?......mari kita tanyakan jawabannya kepada Pak Dalang.
Salam Waras
Tulis Komentar