MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada sebuah pepatah Jawa yang pendek, tetapi terasa panjang ketika direnungkan: melik nggendong lali. Secara sederhana, ungkapan itu dapat dimaknai sebagai ketika seseorang sudah memiliki sesuatu yang diinginkan, ia justru menjadi lupa diri. Keinginan untuk memiliki membuatnya kehilangan ingatan tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apa yang seharusnya ia lakukan. Semakin banyak yang digenggam, semakin banyak pula yang dilupakan.
Pepatah itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kekuasaan. Ada orang yang ketika belum memiliki jabatan berbicara tentang penderitaan rakyat, tentang keadilan, tentang pemerintahan yang bersih, tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan untuk melayani. Namun ketika kursi kekuasaan sudah didudukinya, ketika fasilitas sudah mengelilinginya, ketika penghormatan datang dari berbagai arah, perlahan-lahan ingatan itu bisa menghilang. Ia lupa bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa. Ia lupa bagaimana sulitnya memperoleh sesuatu tanpa kewenangan. Ia lupa bahwa jabatan yang sekarang membuatnya berada di atas sesungguhnya hanya titipan yang sewaktu-waktu dapat berakhir.
Kekuasaan memang memiliki daya pikat yang luar biasa. Ia bukan hanya memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi juga membuka pintu kepada berbagai macam kenikmatan. Di sekitar kekuasaan selalu ada fasilitas, kemudahan, penghormatan, jaringan, peluang, dan orang-orang yang berkepentingan. Dalam situasi seperti itu, manusia mudah tergoda untuk menganggap semua yang datang kepadanya sebagai sesuatu yang pantas diterima. Batas antara hak dan keserakahan menjadi semakin kabur. Apa yang dahulu dianggap tidak pantas, perlahan dianggap biasa. Apa yang dahulu membuat malu, lama-lama justru dianggap sebagai bagian dari fasilitas jabatan.
Dari sanalah korupsi mendapatkan tempat untuk tumbuh. Korupsi tidak selalu dimulai dari niat besar untuk mencuri kekayaan negara. Ia bisa bermula dari pembenaran kecil. Dari sesuatu yang dianggap hanya hadiah. Dari fasilitas yang dianggap sebagai hak. Dari uang yang disebut sekadar ucapan terima kasih. Dari keputusan yang sedikit dibelokkan untuk menguntungkan orang dekat. Dari proyek yang sedikit dimainkan. Dari kewenangan yang sedikit disalahgunakan. Karena dilakukan sedikit demi sedikit, hati menjadi terbiasa. Ketika hati sudah terbiasa, yang besar pun tidak lagi terasa sebagai dosa.
lebih menyedihkan adalah ketika kekuasaan mulai digunakan bukan untuk memperbesar manfaat bagi rakyat, melainkan untuk memperbesar keuntungan bagi diri sendiri dan lingkaran sendiri. Negara seakan-akan berubah menjadi ladang yang boleh dipanen oleh siapa saja yang berhasil mencapai puncak kekuasaan. Anggaran dipandang sebagai angka-angka yang dapat dimainkan. Jabatan dipandang sebagai kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan. Peraturan dapat dicari celahnya. Pengawasan dapat dicari jalan untuk dilemahkan. Kritik dapat dianggap sebagai gangguan. Rakyat cukup diberi kata-kata, sementara keuntungan nyata mengalir ke tempat lain.
Di titik itulah melik nggendong lali menemukan maknanya yang paling dalam. Bukan sekadar lupa kepada asal-usul, tetapi lupa kepada batas moral.
Orang yang terlalu lama menikmati kekuasaan dapat mulai mengira bahwa dirinya memang pantas mendapatkan segala sesuatu. Ia lupa bahwa kekuasaan bukan kepemilikan pribadi. Ia lupa bahwa uang negara bukan uang miliknya. Ia lupa bahwa fasilitas yang dinikmatinya berasal dari masyarakat. Ia lupa bahwa setiap keputusan yang dibuatnya dapat menentukan kehidupan orang lain. Ia lupa bahwa di balik setiap angka dalam anggaran terdapat kebutuhan manusia yang nyata.
Sementara itu, rakyat terus menjalani kehidupan dengan segala kesulitannya. Ada yang bekerja sejak pagi dan pulang ketika hari sudah gelap. Ada yang harus menghitung pengeluaran berkali-kali sebelum membeli sesuatu. Ada yang menunggu pelayanan kesehatan. Ada yang berharap anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik. Ada yang membangun rumah sedikit demi sedikit. Mereka mungkin tidak pernah duduk di kursi kekuasaan, tetapi merekalah yang merasakan langsung akibat dari setiap keputusan yang dibuat dari sana.
Karena itu, korupsi bukan sekadar persoalan mengambil uang. Korupsi adalah persoalan merampas kesempatan. Ketika uang yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah hilang, yang dirampas adalah kesempatan anak-anak untuk belajar dalam keadaan layak. Ketika anggaran kesehatan diselewengkan, yang dirampas adalah hak manusia untuk mendapatkan pelayanan yang semestinya. Ketika pembangunan dipermainkan demi keuntungan, yang dikorbankan adalah kepentingan orang banyak.
Membuat keadaan semakin berbahaya adalah ketika keserakahan mulai mendapatkan pembenaran. Orang mulai berkata bahwa semua orang melakukan hal yang sama. Bahwa tidak mungkin berada dalam kekuasaan tanpa mengambil keuntungan. Bahwa kalau tidak ikut menikmati, justru akan dianggap bodoh. Dari sinilah standar moral perlahan runtuh. Yang salah menjadi biasa, yang biasa menjadi wajar, dan yang wajar akhirnya tidak lagi dipertanyakan.
Milik nggendong lali menjadi pengingat bahwa semakin tinggi seseorang berada, semakin penting baginya untuk mengingat tanah tempat ia berpijak. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar tanggung jawab untuk tidak mengambil yang bukan haknya. Semakin besar kewenangan, semakin kuat pula kewajiban untuk menjaga diri dari godaan.
Sebab ketika seseorang sudah terlalu banyak menggenggam tetapi kehilangan kemampuan untuk mengingat, sesungguhnya yang hilang bukan hanya rasa malu. Yang hilang adalah dirinya sendiri. Dan ketika orang-orang yang memegang kekuasaan kehilangan dirinya karena keserakahan, yang akhirnya membayar harga dari kelupaan itu bukan mereka seorang, melainkan seluruh masyarakat yang berada di bawah kekuasaan mereka. .. Salam Waras.
Tulis Komentar