MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Mbudeg dan micek dari bahasa Jawa yang adalah kata kiasan sederhana, tetapi mengandung kritik yang dalam dan tajam. Mbudeg berarti menulikan diri terhadap suara yang sebenarnya terdengar, sedangkan micek berarti membutakan diri terhadap kenyataan yang sebenarnya ada di depan mata. Keduanya bukan semata-mata persoalan tidak mampu mendengar atau melihat, melainkan sebuah pilihan untuk tidak mendengar dan tidak melihat. Dalam kehidupan politik dan sosial hari ini, sikap semacam ini terasa semakin mudah ditemukan, terutama pada mereka yang memiliki kekuasaan.
Pemimpin pada dasarnya hidup di tengah suara masyarakat. Setiap hari ia berhadapan dengan keluhan, harapan, kritik, tuntutan, bahkan kemarahan. Namun kekuasaan sering menciptakan ruang yang membuat seseorang hanya mendengar suara yang ingin ia dengar. Kritik dianggap sebagai kebencian, pertanyaan dianggap sebagai serangan, dan ketidaksetujuan dianggap sebagai ancaman. Pada titik tertentu, pemimpin tidak lagi benar-benar mendengar masyarakat. Ia hanya mendengar gema dari pikirannya sendiri.
Inilah bentuk mbudeg yang lebih berbahaya daripada sekadar tidak mau mendengar. Ketika seseorang sengaja menutup telinga terhadap kenyataan, ia sedang membangun dunia yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Dalam dunia semacam itu, segala sesuatu tampak baik-baik saja karena suara yang mengganggu telah disingkirkan. Persoalannya bukan karena masalah telah hilang, melainkan karena masalah tidak lagi diberi kesempatan untuk berbicara.
Micek bekerja dengan cara yang hampir sama. Kenyataan yang tidak menyenangkan sering kali lebih mudah diabaikan daripada dihadapi. Ketimpangan, kemiskinan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, rusaknya kepercayaan publik, atau penderitaan masyarakat dapat terlihat jelas, tetapi mata kekuasaan memilih untuk tidak melihatnya. Ada kecenderungan untuk mengganti kenyataan dengan angka, slogan, pencitraan, dan narasi keberhasilan. Seolah-olah ketika sesuatu tidak disebutkan, maka sesuatu itu tidak ada.
Berdasarkan perspektif filsafat kontemporer, persoalan semacam ini bukan hanya menyangkut moral pribadi seorang pemimpin, tetapi juga menyangkut cara manusia berhubungan dengan kenyataan. Kebenaran tidak selalu hilang karena tidak diketahui. Kebenaran juga dapat disingkirkan karena dianggap mengganggu kepentingan. Manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan pembenaran bagi dirinya sendiri. Ia dapat mengetahui bahwa sesuatu salah, tetapi tetap mencari alasan agar kesalahan itu tampak benar. Ia dapat melihat penderitaan, tetapi menemukan bahasa yang membuat penderitaan tersebut terasa wajar.
Di sinilah kekuasaan menjadi persoalan yang serius. Kekuasaan bukan hanya kemampuan membuat keputusan, tetapi juga kemampuan menentukan apa yang dianggap penting, apa yang boleh dibicarakan, dan suara siapa yang layak didengar. Ketika kekuasaan terlalu lama berada dalam ruang yang tertutup, ia dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara realitas dan cerita tentang realitas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, budaya mbudeg dan micek tidak selalu berhenti pada pemimpin. Ia dapat menular kepada masyarakat. Ketika publik terlalu sering melihat kebohongan tanpa konsekuensi, ketidakadilan tanpa koreksi, dan kesalahan tanpa pertanggungjawaban, muncul kelelahan moral. Orang akhirnya berpikir bahwa semuanya memang seperti itu. Kritik menjadi sia-sia. Kejujuran dianggap naif. Kepedulian dianggap merepotkan. Pada tahap inilah masyarakat bukan hanya berhadapan dengan pemimpin yang menulikan dan membutakan diri, tetapi juga dengan lingkungan sosial yang mulai terbiasa terhadap ketulian dan kebutaan tersebut.
Karena itu, masalah terbesar bukan sekadar adanya pemimpin yang mbudeg dan micek. Masalah yang lebih dalam adalah ketika tidak ada lagi kekuatan moral dan sosial yang cukup untuk memaksa kekuasaan kembali berhadapan dengan kenyataan. Demokrasi kehilangan maknanya jika masyarakat hanya menjadi penonton. Kritik kehilangan daya jika setiap kritik selalu dicurigai. Kebebasan berbicara kehilangan arti jika suara yang berbeda hanya dianggap sebagai gangguan.
Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu benar, melainkan pemimpin yang masih memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya bisa salah. Ia membutuhkan keberanian untuk mendengar suara yang tidak menyenangkan dan melihat kenyataan yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Mendengar kritik bukan berarti tunduk kepada semua kritik. Melihat kenyataan bukan berarti menerima semua keadaan. Justru dengan mendengar dan melihat, seseorang memperoleh kesempatan untuk menilai, memperbaiki, dan bertanggung jawab.
Mbudeg dan micek, adalah penyakit kekuasaan sekaligus penyakit manusia. Ketika telinga ditutup dan mata dipalingkan, kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk mengurus kehidupan bersama, tetapi berubah menjadi ruang untuk mempertahankan kenyamanan diri. Negeri ini tidak terutama membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara tentang keberhasilan. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang cukup berani untuk mendengar keluhan, melihat luka, mengakui kesalahan, dan menghadapi kenyataan apa adanya. Sebab sebuah bangsa tidak akan menjadi lebih baik hanya karena pemimpinnya banyak berbicara. Bangsa menjadi lebih baik ketika kekuasaannya masih mampu mendengar dan melihat.
Salam Waras
Tulis Komentar