MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Majid Lintang
RT 07 sebenarnya bukan RT yang istimewa. Tidak ada yang viral dari sana, kecuali satu hal: warganya gampang tersinggung tapi juga gampang lupa kenapa mereka tersinggung.
Pak RT, bernama lengkap Sugiman (tapi lebih dikenal sebagai “Pak RT yang jangan diajak debat”), suatu malam mengumumkan sesuatu yang mengguncang grup WhatsApp.
“Warga RT 07 yang saya hormati, tahun ini lomba 17-an kita ganti. Kita buat FESTIVAL TERTAWA.”
Reaksi pertama datang dari Bu Rukmini, ketua arisan sekaligus komentator segala hal.
“Maksudnya gimana, Pak? Kita disuruh ketawa tanpa sebab? Itu mah kayak orang habis lihat saldo.”
Pak RT tidak goyah.
“Intinya sederhana. Siapa pun yang bisa bikin orang lain tertawa, dia menang.”
Maka dimulailah persiapan paling tidak jelas sepanjang sejarah RT 07.
Hari H tiba.
Lapangan kecil di ujung gang disulap jadi arena “kompetisi kebahagiaan”. Spanduk seadanya terbentang:
FESTIVAL TERTAWA RT 07: TERTAWA ITU GRATIS, KECUALI PARKIR
Peserta pertama adalah Pak Joko, tukang servis elektronik yang terkenal serius seperti kalkulator.
Ia naik ke panggung dengan wajah datar.
“Selamat malam,” katanya.
Semua diam.
“Saya akan melucu.”
Masih diam.
Pak Joko membuka catatan kecil.
“Kenapa TV rusak?”
Hening.
“Karena… dia tidak bisa move on dari channel lama.”
Sunyi.
Seekor ayam lewat.
Batuk seseorang terdengar lebih nyaring daripada punchline itu.
Pak Joko turun dengan wajah tetap datar, tapi aura kegagalannya terasa seperti sinetron azab.
Peserta kedua: Bu Sari, pemilik warung es teh.
Ia naik sambil membawa termos.
“Yang haus boleh beli dulu ya, sambil ketawa.”
Strategi marketing yang licik.
Ia lalu mulai bercerita tentang pelanggan yang pernah minta es teh hangat tanpa es tapi dingin.
Warga mulai cekikikan.
“Dia bilang, ‘Bu, saya pengen es teh tapi lagi flu, jadi jangan dingin, tapi tetap segar ya.’”
Tawa mulai pecah.
Pak RT sampai terpingkal sambil pegang perut.
Bu Sari tersenyum puas, sambil tetap jualan.
Multitasking level dewa.
Peserta ketiga: Andi, remaja yang sok jadi stand-up comedian setelah nonton video dua jam.
Ia naik dengan percaya diri berlebihan.
“Teman-teman,” katanya, “hidup itu seperti WiFi…”
Semua langsung siap.
“…kadang connect, kadang tidak, tergantung password tetangga.”
Ledakan tawa.
Andi makin semangat.
“Tapi yang paling menyakitkan itu… sudah connect, eh disuruh bayar.”
Tawa makin menjadi.
Bu Rukmini bahkan sampai tepuk paha sendiri.
“Bener itu! Saya pernah!”
Tidak jelas kapan.
Lalu datang peserta tak terduga.
Oyen.
Kucing kampung legendaris RT 07.
Tidak ada yang mendaftarkannya. Tidak ada yang tahu dia peserta. Tiba-tiba saja dia naik ke panggung.
Ia duduk.
Menatap warga.
Diam.
Semua juga diam.
Oyen lalu… menjatuhkan diri dari meja panggung dengan gaya dramatis.
Pluk.
Hening satu detik.
Lalu…
BOOM.
Tawa pecah seantero RT.
Pak Joko yang tadi gagal bahkan tertawa paling keras.
Oyen bangkit, menjilat kaki, lalu berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Itu penampilan paling jujur malam itu.
Menjelang akhir acara, Pak RT naik ke panggung.
Wajahnya sumringah.
“Warga sekalian,” katanya, “saya tidak peduli siapa yang menang.”
Semua langsung protes.
“Loh kok gitu?!” kata Bu Rukmini.
Pak RT tersenyum.
“Karena malam ini… kita semua menang.”
Semua terdiam.
Untuk pertama kalinya, diam yang tidak canggung.
“Yang biasanya tidak saling sapa, jadi ketawa bareng. Yang kemarin masih marahan soal parkir, sekarang duduk sebelahan.”
Pak Joko melirik tetangganya yang pernah ribut soal antena.
Mereka saling nyengir.
Canggung, tapi tulus.
“Dan yang paling penting,” lanjut Pak RT, “kita sadar… ternyata bahagia itu tidak perlu mahal. Kadang cukup… jatuh dari meja seperti Oyen.”
Semua tertawa lagi.
Oyen, yang sedang tidur di bawah kursi, bahkan tidak tahu ia jadi legenda.
Akhirnya, pemenang diumumkan.
Juara 1: Oyen.
Juara 2: Bu Sari.
Juara 3: Andi.
Pak Joko dapat penghargaan khusus: “Keberanian Tampil Tanpa Hasil.”
Ia menerimanya dengan bangga.
Malam itu, RT 07 berubah.
Bukan jadi lebih kaya.
Bukan jadi lebih terkenal.
Tapi jadi lebih ringan.
Karena mereka menemukan sesuatu yang sering hilang:
Alasan untuk tertawa… tanpa harus menunggu semuanya sempurna dulu.
Dan sejak saat itu, setiap ada masalah di RT 07, solusinya sederhana.
Bukan rapat panjang.
Bukan debat panas.
Tapi satu kalimat dari Pak RT:
“Coba kita ketawain dulu, baru kita pikirin.”
Dan anehnya…
sering berhasil.***
Tulis Komentar