MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Beberapa hari lalu berkunjung ke Provinsi Bali dalam rangka mengunjungi seorang anak yang ada di sana. Semula berkeinginan untuk beristirahat dari kesibukan pekerjaan yang silih berganti. Ternyata niatan itu meleset semua. Justru saat di pulau ini banyak inspirasi yang harus di tulis. Bahkan saat kepulanganpun mesih sempat berkontemplasi, dan tulisan ini hasilnya.
Bali dalam kosa kata bahasa Jawa adalah mulih, kalau di bahasa Indonesia-kan berarti pulang. Kata yang sederhana ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perpindahan seseorang dari suatu tempat menuju tempat lain. Pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah setelah bepergian, bukan semata-mata tentang meninggalkan suatu ruang untuk menuju ruang yang pernah ditinggalkan. Pulang adalah gerak alamiah menuju asal, sebuah perjalanan kembali kepada sesuatu yang sejak awal telah menjadi bagian dari keberadaan kita.
Jika kehidupan dipandang melalui kaca mata filsafat, segala sesuatu yang ada di alam memiliki kodrat untuk bergerak dalam suatu lingkaran. Air menguap dari bumi, berkumpul menjadi awan, kemudian turun kembali sebagai hujan dan menghidupi bumi. Tumbuhan tumbuh dari tanah, menyerap unsur-unsur bumi, menghasilkan kehidupan, lalu ketika mati kembali menjadi bagian dari tanah. Manusia pun demikian. Tubuhnya berasal dari unsur-unsur alam dan kelak akan kembali menjadi unsur alam. Kehidupan tidak berhenti pada satu bentuk, melainkan terus bergerak dari asal menuju keberadaan dan dari keberadaan menuju asal.
Karena itu, mulih sesungguhnya bukan sekadar perjalanan geografis. Ia merupakan simbol dari hukum kodrat yang melekat pada setiap makhluk. Segala sesuatu yang lahir membawa jejak asalnya. Sehelai daun yang tumbuh dari sebuah pohon tetap memiliki hubungan dengan akar yang menopangnya. Seekor burung yang terbang jauh tetap membawa naluri untuk kembali ke tempat yang memberinya rasa aman. Manusia boleh berjalan sejauh apa pun, membangun kehidupan di berbagai tempat, mengejar cita-cita, kekayaan, pengetahuan, maupun pengalaman, tetapi dalam dirinya selalu terdapat dorongan untuk menemukan kembali sesuatu yang disebut asal.
Asal tidak selalu berarti sebuah alamat. Rumah dapat berupa tanah tempat seseorang dilahirkan, keluarga yang membesarkannya, bahasa yang pertama kali dikenalnya, atau nilai-nilai yang membentuk dirinya. Namun asal juga dapat memiliki makna yang lebih luas: kesadaran tentang dari mana keberadaan ini berasal dan ke mana seluruh kehidupan bergerak. Dalam pengertian ini, pulang adalah perjalanan ke dalam diri. Seseorang yang pulang secara fisik belum tentu menemukan rumahnya, sementara seseorang yang jauh secara jarak dapat mengalami kepulangan ketika ia menemukan kembali dirinya.
Kehidupan modern sering membuat manusia lupa terhadap makna pulang. Manusia bergerak semakin cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengejar sesuatu yang sering kali tidak pernah benar-benar selesai dikejar. Keberhasilan diukur melalui seberapa jauh seseorang dapat pergi, seberapa tinggi ia dapat mencapai, dan seberapa banyak yang dapat ia miliki. Pergi kemudian menjadi lambang kemajuan, sementara pulang kadang dianggap sebagai kemunduran. Padahal, dalam pandangan filsafat, pergi dan pulang bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Pergi memungkinkan seseorang mengalami dunia, sedangkan pulang memungkinkan seseorang memahami arti dari pengalaman tersebut.
Pulang juga mengandung kesadaran bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar dimiliki secara mutlak. Tubuh, waktu, harta, kedudukan, bahkan kehidupan itu sendiri berada dalam batas-batas tertentu. Manusia datang tanpa membawa apa-apa dan menjalani kehidupan dengan menerima berbagai hal dari alam. Ketika waktunya tiba, semua yang semula diterima harus dilepaskan kembali. Dalam pengertian ini, kematian merupakan bentuk kepulangan yang paling mendasar. Tubuh kembali kepada tanah, unsur-unsur kembali kepada alam, dan kehidupan kembali kepada sumber keberadaannya menurut keyakinan dan pandangan masing-masing.
Kesadaran tentang kepulangan semestinya tidak membuat manusia takut menjalani kehidupan. Sebaliknya, ia dapat menjadi pengingat agar perjalanan hidup dijalani dengan lebih bijaksana. Jika setiap perjalanan memiliki arah kembali, maka apa yang dilakukan selama berada di perjalanan menjadi penting. Cara seseorang memperlakukan alam, sesama manusia, dan dirinya sendiri akan menentukan kualitas perjalanan sebelum ia kembali kepada asal. Manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupan, melainkan bagian dari jaringan keberadaan yang jauh lebih besar.
Mulih dengan demikian adalah kata yang sederhana sekaligus mendalam. Ia mengajarkan bahwa keberadaan bukanlah garis lurus yang bergerak tanpa arah. Ada siklus, ada perubahan, ada perpisahan, dan ada kepulangan. Yang lahir akan tumbuh, yang tumbuh akan berubah, yang berubah akan mengalami peluruhan, dan yang meluruh akan menjadi bagian dari sesuatu yang baru. Begitulah alam bekerja tanpa banyak suara, memperlihatkan bahwa kehidupan selalu memiliki hubungan dengan asalnya.
Maka pulang bukan berarti berhenti berjalan. Pulang justru merupakan bagian dari perjalanan itu sendiri. Manusia boleh pergi sejauh mungkin untuk mengenal dunia, tetapi semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin penting pula pertanyaan tentang asal. Sebab di antara keberangkatan dan kepulangan terdapat seluruh pengalaman yang disebut kehidupan. Mulih mengingatkan bahwa kita semua adalah pejalan yang suatu ketika akan kembali, bukan karena perjalanan kita gagal, melainkan karena kembali merupakan bagian dari kodrat keberadaan.
Salam Jimbaran
Tulis Komentar