MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada teman yang asli Banyumas berkeluh kesah kepada penulis dengan logat dan dialek banyumasan yang kental sebagai berikut:
“Lha saiki kok rasane wong-wong padha adoh ya?”
“Adoh kepriwe?”
“Ya kuwi. Tangga ngerti tangga, sedulur ngerti sedulur, ning nek ana kangelan akeh sing milih meneng. Kaya pada usaha dewek-dewek.”
“Heh, kuwi mah saiki jenenge USDEK.”
“USDEK? Lha kaya jaman Orde Lama bae?”
“Dudu. USDEK saiki ya Usaha Dewek-Dewek. Sing penting awake slamet, urusan liyane mengko.”
“Waduh, nek ngono angel uripe. Wong urip ki rak ora bisa dewekan.”
Obrolan sederhana dalam logat Banyumasan itu mengandung kegelisahan yang semakin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Istilah USDEK yang dahulu dikenal sebagai konsep politik pada masa Orde Lama kini dipelesetkan menjadi “Usaha Dewek-Dewek”, sebuah ungkapan yang menggambarkan kecenderungan sebagian masyarakat untuk lebih mengutamakan keselamatan, kepentingan, dan keuntungan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Meskipun disampaikan dengan nada bercanda, istilah tersebut sesungguhnya memotret perubahan sosial yang cukup nyata di tengah masyarakat modern.
Perkembangan zaman membawa banyak kemudahan. Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih cepat, informasi dapat diakses dalam hitungan detik, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi tanpa harus keluar rumah. Namun di balik berbagai kemajuan itu, muncul pula gejala yang sering disebut sebagai meningkatnya sikap individualis. Orang semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesibukan pekerjaan, persaingan ekonomi, serta tuntutan kehidupan membuat banyak orang lebih fokus pada dirinya sendiri daripada lingkungan sekitarnya.
Pada masyarakat tradisional, terutama di pedesaan, semangat gotong royong merupakan bagian penting dari kehidupan. Ketika ada tetangga membangun rumah, warga sekitar datang membantu. Saat ada hajatan, banyak orang ikut bergotong royong tanpa mengharapkan imbalan. Jika ada keluarga yang mengalami kesulitan, masyarakat sekitar biasanya segera memberikan dukungan. Nilai-nilai seperti kebersamaan, rasa memiliki, dan solidaritas menjadi fondasi hubungan sosial.
Kini situasinya mulai berubah. Banyak orang tinggal berdekatan secara fisik tetapi jauh secara sosial. Mereka mengetahui aktivitas teman-teman melalui media sosial, tetapi tidak mengenal secara dekat tetangga yang tinggal hanya beberapa meter dari rumahnya. Ketika menghadapi masalah, sebagian orang lebih memilih menyelesaikannya sendiri daripada meminta bantuan atau melibatkan komunitas. Dalam kondisi tertentu, sikap mandiri memang merupakan hal yang positif. Namun ketika kemandirian berubah menjadi ketidakpedulian terhadap sesama, maka muncul persoalan baru dalam kehidupan sosial.
Ungkapan ini menggambarkan keadaan ketika setiap orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Dalam dunia kerja misalnya, persaingan sering kali membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih transaksional. Seseorang dinilai berdasarkan manfaat yang dapat diberikan. Ketika manfaat itu hilang, hubungan pun menjadi renggang. Di bidang ekonomi, tekanan kebutuhan hidup membuat sebagian orang lebih fokus mencari keuntungan pribadi daripada memikirkan dampak sosial yang lebih luas.
Banyak faktor yang memengaruhi perubahan perilaku masyarakat. Kondisi ekonomi yang tidak menentu, meningkatnya biaya hidup, serta ketatnya persaingan membuat orang harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Dalam situasi seperti itu, perhatian terhadap lingkungan sekitar sering kali berkurang bukan karena tidak peduli, melainkan karena energi dan waktunya sudah tersita oleh berbagai tuntutan kehidupan.
Sejatinya kepedulian sosial tidak sepenuhnya hilang, ada yang berubah bentuk, semula penggalangan dana sosial dilakukan secara fisik, atau langsung. Namun sekarang melalui media sosial dan teknologi perbankan. Sehingga membantu sesama tidak tampak nyata, tetapi masif. walaupun tidak terlihat fisiknya tetapi kebermanfaatannya lebih terasa, karena menjadi personal. Bantuan bagi yang membutuhkan tidak harus menjatuhkan martabat yang dibantu, karena secara kasatmata tidak tampak, tetapi secara langsung diterima melalui akun mereka.
Peringatan yang terkandung dalam istilah USDEK tetap relevan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Tidak ada orang yang mampu memenuhi seluruh kebutuhannya tanpa bantuan pihak lain. Petani membutuhkan pedagang, pedagang membutuhkan pembeli, pekerja membutuhkan perusahaan, dan perusahaan membutuhkan masyarakat sebagai konsumen. Kehidupan berjalan karena adanya hubungan timbal balik antarmanusia.
Pada konteks ini istilah USDEK menjadi semacam kritik sosial yang disampaikan dengan cara khas Banyumasan: lugas, jenaka, tetapi mengandung makna mendalam. Di balik candaan tentang “Usaha Dewek-Dewek”, tersimpan pesan agar masyarakat tidak kehilangan rasa kebersamaan. Sebab ketika semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri, hubungan sosial akan menjadi rapuh. Sebaliknya, ketika semangat saling membantu tetap dipelihara, masyarakat akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat menyelamatkan dirinya sendiri. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia mampu berjalan bersama, berbagi beban, dan saling menguatkan. Sebab sehebat apa pun seseorang, pada suatu saat ia akan membutuhkan uluran tangan orang lain. Dan pada saat itulah nilai kebersamaan terbukti jauh lebih berharga daripada sekadar usaha dewek-dewek. Demikianhalnya dengan pemimpin; kesuksesannya bukan diukur oleh kepuasan dirinya tetapi seberapa besar apresiasi yang dipimpinnya terhadap dirinya. Gebrakan meja podium, cibiran bibir di atas mimbar, cemoohan kata di muka lensa; semua itu justru menjatuhkan martabat karena secara tidak langsung memicu yang dipimpin akan mencari selamat masing-masing.
Salam Panginyongan
Tulis Komentar