Senja di Way Waya: Jejak Emas, Hutan, dan Ketakutan yang Tak Pernah Padam

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

(Bag. 1)


Oleh : Majid Lintang 


Membaca berita tentang tambang emas ilegal yang kembali viral di Lampung beberapa waktu terakhir, ingatan saya mendadak melompat jauh ke belakang—ke penghujung 1989, ketika aroma tanah basah hutan Way Waya pertama kali bercampur dengan bau keringat para pemburu emas liar.


Tiga puluh tujuh tahun lalu, istilahnya belum “PETI” atau pertambangan tanpa izin seperti sekarang. Orang-orang menyebutnya sederhana saja: tambang emas liar.


Kala itu saya masih reporter muda. Menjelang akhir tahun, pada suatu sore di triwulan keempat 1989, saya dipanggil ke ruang redaksi. Di dalam ruangan yang penuh asap rokok dan bunyi mesin tik itu, dua redaktur senior sudah menunggu: @⁨Pengguna tak dikenal⁩ dan Bang Kolam Pandia—dua wartawan keras kepala yang bagi saya bukan sekadar atasan, melainkan guru lapangan.


Mereka memberi tugas yang sampai hari ini masih melekat kuat dalam ingatan: menyusup ke kawasan Hutan Lindung Register 22 Way Waya.


“Cari mereka,” kata @⁨Pengguna tak dikenal⁩ pendek sambil menyalakan rokok. “Tanya berasal dari mana. Berapa emas yang mereka dapat sehari. Dijual ke siapa. Siapa yang mengatur.”


Bang Kolam Pandia menimpali dengan nada lebih tenang.


“Jangan cuma lihat tambangnya. Dengarkan warga. Temui pamong desa. Kita perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.”


Saya mengangguk. Saat itu saya bahkan belum tahu persis di mana Way Waya berada.


Dari meja redaksi itulah perjalanan dimulai.


Petunjuk menuju Register 22 terdengar seperti peta menuju daerah yang nyaris tak tersentuh. Dari Bandar Lampung saya harus ke Pringsewu, lanjut ke Sukoharjo, lalu Banyumas. Setelah itu, barulah mencari jalan menuju Way Waya dengan bertanya kepada warga.


Lampung akhir 1980-an tentu berbeda dengan sekarang. Perjalanan darat masih dikuasai kendaraan umum yang gemar “ngetem” lebih lama daripada berjalan. Dari Pasar Gintung menuju Kemiling saja bisa menghabiskan setengah jam hanya untuk menunggu penumpang penuh. Dari Kemiling ke Pringsewu, bus kembali berhenti lama. Begitu pula trayek Sukoharjo dan Banyumas.

Perjalanan terasa seperti rangkaian jeda yang tak selesai.


Menjelang sore saya tiba di Banyumas, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju Desa Sinar Waya—desa terakhir sebelum kawasan hutan Register 22 dimulai.


Langit sudah mulai jingga ketika saya sampai.


Saya sempat singgah ke rumah kepala desa. Seorang perempuan paruh baya menyambut ramah. Dialah kepala desa itu. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya berubah cemas ketika mendengar tujuan kedatangan saya.


“Mas nginap saja di sini,” katanya pelan. “Besok pagi baru naik.”


Saya menolak.


Mungkin karena masih muda. Mungkin juga karena terlalu percaya diri sebagai wartawan lapangan yang merasa tugas harus dituntaskan secepat mungkin.

Ibu kepala desa kembali mencoba menahan.


“Di atas gak ada kampung, Lo, Mas.”


Namun saya tetap bersikeras.

Bahkan tukang ojek yang mengantar pun mulai gelisah ketika matahari makin turun.


“Sebentar lagi Maghrib, Mas,” katanya.


Saya tetap meminta diantar malam itu juga.


Akhirnya, dengan enggan, ia menuruti.


Belum genap sepuluh menit motor trail kami memasuki kawasan hutan, suara azan Maghrib terdengar samar dari bawah lembah. Saat itulah tukang ojek mendadak mengerem keras.

Motor berhenti.


Suasana sekitar berubah sunyi dengan cepat. Hanya suara serangga hutan yang mulai ramai dari sela pepohonan.


“Maaf, Mas,” katanya lirih. “Saya gak sanggup lanjut.”


Ia tampak benar-benar ketakutan. Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, seolah ada sesuatu yang mengintai di balik rimbun hutan.


“Ayo turun lagi, Mas. Besok pagi saya antar,” bujuknya.

Saya menolak.


“Ongkosnya saya tambah,” kata saya.


“Gak dibayar juga gak apa-apa,” jawabnya cepat.


Kalimat itu membuat saya sadar: ketakutan orang ini bukan soal uang.


Entah karena cerita-cerita gaib yang hidup di sekitar Way Waya, atau karena kawasan itu memang terkenal keras—tempat para pemburu emas, para pendatang, para penjudi nasib, dan berbagai urusan gelap bertemu dalam satu belantara.


Namun jiwa muda sering kali lebih keras kepala daripada rasa takut.

Saya memilih tetap tinggal di dalam hutan.


Dengan wajah cemas, tukang ojek itu akhirnya memutar motornya kembali ke Desa Sinar Waya.

Sebelum pergi, ia sempat menatap saya lama sekali—tatapan seseorang yang merasa sedang meninggalkan orang lain di tempat yang tidak semestinya.


Tak lama kemudian suara motor itu hilang ditelan gelap.


Dan saya pun berdiri sendirian di tengah Register 22 Way Waya, ditemani suara malam yang perlahan turun bersama rahasia emas di dalam hutan.***


(Bersambung)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)