MERAWAT SEJARAH, MENITIPKAN HARAPAN

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ada tanggal yang tidak sekadar tertulis dalam kalender, tetapi menetap jauh di dalam hati. Dua puluh delapan Oktober adalah salah satunya. Bagi bangsa Indonesia, tanggal ini merupakan peringatan Sumpah Pemuda, sebuah ikrar tentang persatuan, kebangsaan, dan cita-cita bersama. Namun, bagi saya, tanggal yang sama memiliki makna yang lebih personal, sebab pada hari itu pula anak sulung saya dilahirkan. Dua peristiwa yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu tanggal, seolah menghubungkan perjalanan sebuah bangsa dengan perjalanan sebuah keluarga, antara sejarah perjuangan dan kasih sayang, antara warisan masa lalu dan harapan masa depan.

Ketika menengok masa lalu, saya menyadari bahwa kehidupan hari ini tidak pernah terlepas dari perjuangan generasi sebelumnya. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan menerima perbedaan demi tujuan yang lebih besar. Para pemuda pada zamannya berani melampaui sekat-sekat kedaerahan untuk membayangkan Indonesia yang bersatu. Mereka mungkin tidak mengetahui bagaimana rupa masa depan yang sedang diperjuangkan, tetapi mereka percaya bahwa bangsa ini layak memiliki kehidupan yang lebih baik.

Dalam kehidupan keluarga, masa lalu juga menyimpan kenangan yang tidak tergantikan. Kelahiran anak sulung saya adalah salah satu peristiwa yang mengubah hidup saya. Sejak kehadirannya, kebahagiaan memiliki makna baru, begitu pula tanggung jawab. Saya belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang memberikan, tetapi juga tentang menjaga, mendampingi, dan mempersiapkan seseorang agar kelak mampu menjalani kehidupannya sendiri. Setiap tahap pertumbuhannya membawa kebahagiaan sekaligus perenungan, sebab waktu terus berjalan, sementara kenangan tentang dirinya yang dahulu kecil tetap hidup dalam ingatan saya.

Masa kini mengajak kita memahami bahwa warisan masa lalu tidak cukup hanya dikenang. Semangat Sumpah Pemuda harus hadir dalam tindakan sehari-hari, dalam cara kita menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, dan mengutamakan kepentingan bersama. Di tengah dunia yang semakin terbuka, manusia justru sering terjebak dalam pertentangan dan kepentingan pribadi. Perbedaan pendapat mudah menjadi permusuhan, sementara keberhasilan terkadang diukur hanya melalui pencapaian individual. Padahal, kemajuan yang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi seseorang mencapai cita-citanya, tetapi juga oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikannya kepada orang lain.

Sebagai orang tua, saya pun terus belajar menjalani masa kini. Membesarkan anak bukan sekadar memastikan kebutuhan hidup terpenuhi atau pendidikan terselesaikan. Lebih dari itu, ada tanggung jawab menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi pegangan ketika anak menghadapi dunia. Saya berharap anak saya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas tanpa kehilangan kerendahan hati, berani tanpa mengabaikan kebijaksanaan, dan berhasil tanpa melupakan orang-orang yang pernah mendukung perjalanannya. Saya tidak berharap ia menjadi manusia yang sempurna. Saya hanya berharap ia memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan tetap menjaga hati di tengah berbagai perubahan kehidupan.

Masa depan adalah bagian yang paling dekat dengan harapan, sekaligus paling jauh dari kepastian. Saya tentu ingin melihat anak saya bahagia, mampu menentukan jalan hidupnya, dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya. Namun, saya juga memahami bahwa tidak semua jalan dapat saya tentukan untuknya. Akan ada keputusan yang harus ia ambil sendiri, kegagalan yang perlu ia hadapi, dan pengalaman yang hanya dapat dipahami setelah ia menjalaninya. Tugas saya bukan menghilangkan seluruh kesulitan dari hidupnya, melainkan membekalinya agar ia memiliki kekuatan untuk melewatinya.

Harapan itu juga berlaku bagi bangsa Indonesia. Generasi muda tidak hanya menerima sejarah sebagai warisan, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menentukan arah perjalanan berikutnya. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak sekadar bangga terhadap masa lalu, tetapi bersedia memperbaiki kekurangan pada masa kini dan membangun masa depan dengan kerja nyata. Sebagaimana seorang anak membutuhkan akar untuk mengenali jati dirinya, sebuah bangsa membutuhkan ingatan sejarah agar tidak kehilangan arah. Namun, akar bukanlah sesuatu yang menahan pertumbuhan, melainkan sumber kekuatan untuk menjangkau kehidupan yang lebih luas.

Dua puluh delapan Oktober akhirnya menjadi ruang perenungan bagi saya. Masa lalu mengajarkan penghargaan terhadap perjuangan, masa kini mengingatkan pentingnya tanggung jawab, dan masa depan menuntut keberanian untuk berharap. Dalam perjalanan bangsa, ketiganya saling berkaitan. Begitu pula dalam perjalanan anak saya. Apa yang ia terima hari ini akan memengaruhi keputusannya esok, sementara nilai-nilai yang ia pelihara akan menentukan jejak yang kelak ia tinggalkan.

Pada hari ulang tahunnya, saya ingin menitipkan harapan sederhana: jadilah manusia yang mengenal asal-usulnya, menghargai sesamanya, dan tidak lelah berbuat baik. Saya mungkin tidak selalu mampu berada di sisinya, tetapi doa dan kasih sayang akan selalu menjadi bagian dari perjalanannya.

Semoga setiap dua puluh delapan Oktober menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang bertambahnya usia, melainkan tentang bertumbuhnya kebijaksanaan. Sebab, warisan terbaik bukan semata-mata harta atau pencapaian, melainkan nilai-nilai yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Dan jika kelak anak saya mampu membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa, saya akan menemukan kebahagiaan dalam kesadaran bahwa cinta yang dahulu ditanamkan telah tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna bagi dunia. Selamat Ulang Tahun Mas Hamid…dan Selamat Hari Sumpah Pemuda Bagi Bangsa.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)