KETENANGAN SEBAGAI PUNCAK PERJALANAN MANUSIA

$rows[judul]

MITRA TV LAMPUNG. COM

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

(Di lereng Gunung Retawu tempat Begawan Abiyasa bertapa. Arjuna, sang cucu kesayangan, datang, membawa kegelisahan di wajahnya.)

Arjuna berkata: Eyang, hatiku resah. Dunia penuh pertikaian. Aku lelah berperang melawan sesama dan diriku sendiri.

Begawan Abiyasa sambil tersenyum menjawab: Cucu ku yang ganteng, dunia memang tak tenang, sebab hati manusia pun belum tenang. Yang harus kau tundukkan bukan musuh di luar, tapi amarah di dalam dadamu.

Arjuna menukas: Bagaimana caranya, Eyang? Aku mudah marah, mudah sedih, mudah takut.

Begawan Abiyasa sambil manggut-manggut menjawab: Jika kau melihat dunia tanpa ingin menguasai, amarah akan padam sendiri. Saat itu, engkau tidak lagi diperintah oleh dunia, tapi oleh kebeningan jiwamu sendiri.

Arjuna terperangah dan berkata:  Apakah itu artinya aku telah selesai dengan dunia?

Begawan Abiyasa: Ya, Cu. Saat engkau tidak marah lagi, tidak tersulut lagi, dan hanya mampu tersenyum pada dunia, itulah tandanya engkau telah pulang pada dirimu sendiri.

(Arjuna menatap wajah Sang Resi. Di sana ia melihat ketenangan yang dalam, seperti danau yang tak terusik angin. Lalu ia pun tersenyum perlahan undur diri untuk menuju Medan Perang Kurusetra.)

Potongan kisah Baratayudha di atas, versi pedalangan Jawa, Sang Dalang ingin menyampaikan pesan batin kepada seisi dunia ini bahwa, ada suatu titik dalam perjalanan batin manusia ketika dunia tidak lagi tampak sebagai medan perebutan, melainkan taman kesadaran. Di titik itu, seseorang telah selesai dengan urusan dunia, bukan karena ia menolak kehidupan, melainkan karena ia telah memahaminya. Ukurannya bukan harta, bukan kedudukan, dan bukan pula pengaruh, tetapi ketenangan yang lahir dari kedewasaan jiwa: ia sudah tidak marah lagi, tidak mudah tersulut emosi, dan hanya memandang dunia dengan senyuman yang tulus.

Senyum itu bukan sekadar gerak bibir; ia adalah bahasa jiwa yang telah melewati badai. Dalam senyum itu terkandung pemahaman mendalam bahwa hidup adalah serangkaian gelombang yang datang dan pergi, dan manusia tidak bisa memerintah lautan. Ia hanya bisa belajar menari di atas ombaknya. Orang yang sudah selesai dengan urusan dunia bukan berarti ia berhenti berbuat, melainkan ia telah berhenti menggenggam dengan cemas. Ia menjalani tanpa menuntut, bekerja tanpa takut kehilangan hasil. 

Filsafat manusia mengajarkan bahwa kemarahan dan emosi adalah bentuk keterikatan terhadap ego. Manusia marah karena sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya. Ia tersinggung karena ingin diakui. Ia sedih karena kehilangan yang dianggap miliknya. Dalam setiap gejolak itu, ada “aku” yang ingin diutamakan, ingin menang, ingin diingat. Namun ketika manusia mulai melihat bahwa dunia ini bukan miliknya untuk dikendalikan, ia mulai belajar melepaskan. Dalam pelepasan itulah ketenangan tumbuh seperti cahaya pagi yang lembut.

Menjadi manusia yang tidak lagi marah bukan berarti menjadi batu yang tak berperasaan. Justru sebaliknya: ia menjadi lebih hidup, lebih peka, lebih lembut. Ia tahu kapan harus tegas dan kapan harus diam. Dunia baginya bukan lagi arena pertarungan, melainkan panggung pembelajaran. Semua peristiwa, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, ia pandang sebagai guru yang membentuk jiwanya menjadi matang.

Orang seperti itu telah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ia tidak lagi mencari kesalahan orang lain, karena ia tahu setiap manusia berjuang dengan luka dan keterbatasannya sendiri. Ia tidak lagi memaksa dunia agar sesuai dengan keinginannya, karena ia tahu bahwa dunia bergerak menurut hukum yang lebih besar dari kehendak pribadi. Ia hanya menatap, mengerti, dan tersenyum. Senyuman itu adalah tanda bahwa ia telah memahami bahasa semesta.

Ketenangan yang lahir dari batin yang tidak mudah marah adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan. Sebab di balik setiap kemarahan, tersimpan ketakutan. Dan ketika ketakutan itu lenyap, yang tersisa hanyalah penerimaan. Orang yang sudah selesai dengan urusan dunia tidak takut kehilangan, tidak takut dihina, tidak takut gagal, sebab ia tahu semua yang datang juga akan pergi. Ia tidak lagi mendefinisikan dirinya dari pandangan orang lain, melainkan dari ketulusan niat dan kedalaman hatinya.

Filsafat manusia menempatkan kedewasaan batin sebagai puncak perjalanan eksistensial. Kedewasaan bukan soal usia, melainkan kemampuan untuk melihat dunia tanpa kabut emosi. Dunia tetap sama, masih penuh hiruk pikuk, masih penuh keinginan dan pertentangan; tetapi cara memandangnya berubah. Ketika seseorang berhenti bereaksi dan mulai memahami, dunia menjadi lebih damai. Ia tak lagi menjadi korban dari keadaan, melainkan saksi yang penuh kesadaran.

Ketika seseorang mencapai titik itu, waktu terasa melambat. Ia tidak lagi tergesa-gesa mengejar hasil, tidak pula gelisah menunggu perubahan. Ia bekerja dengan hati yang ringan karena tahu bahwa yang terpenting bukan apa yang didapat, tetapi bagaimana proses itu membentuk dirinya. Ia memaafkan bukan karena lupa, tetapi karena mengerti bahwa dendam hanya memperpanjang penderitaan. Ia tersenyum bukan karena hidup tanpa luka, tetapi karena ia belajar menari di atas lukanya.

Seseorang yang sudah tidak marah lagi memiliki pandangan yang jernih terhadap makna kehidupan. Ia memahami bahwa manusia datang ke dunia ini bukan untuk menguasai, melainkan untuk belajar menjadi utuh. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal abadi. Ketika seseorang sudah mengerti hal itu, nafsu untuk berdebat, membuktikan diri, dan bersaing berlebihan akan perlahan sirna. Ia menjadi tenang karena tahu setiap jiwa memiliki jalannya sendiri.

Manusia yang seperti ini sesungguhnya telah mencapai bentuk tertinggi dari kebebasan. Ia bebas dari amarah, bebas dari penilaian, bebas dari rasa harus menang. Ia hidup dengan ringan, karena tidak ada lagi beban untuk mempertahankan citra atau membalas perlakuan. Ia tahu bahwa keindahan hidup justru terletak pada keterbatasan, dan kebahagiaan sejati bukan ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati tak lagi dikendalikan oleh keinginan.

Maka benar adanya, seseorang sudah dianggap selesai dengan urusan dunia jika ia sudah tidak memiliki dorongan marah lagi, tidak emosi lagi, dan hanya melihat dunia dengan senyuman. Karena di balik senyum itu tersimpan rahasia tertinggi manusia: kemampuan untuk memahami bahwa hidup bukan tentang menaklukkan dunia, melainkan tentang menaklukkan diri sendiri.

Salam Waras

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)