MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ruang pertemuan itu dipenuhi aroma hidangan ketika tawa mulai pecah di sudut-sudut meja. Hujan di luar turun rintik-rintik, menjadi latar yang menenangkan. Doa dipanjatkan dipimpin penulis, entah mengapa tiga tahun terakhir ini jika memimpin doa, atau membaca salah satu Surah di Kitab Suci; air mata tidak bisa dibendung; semua ini karena menyadari betapa banyak karunia diberikan oleh NYA; dari usia, rezeki yang berkelimpahan, dan banyaknya teman yang sudah mendahului, sementara diri ini harus terus berbenah diri menunggu panggilah datang. Selesai ritual doa, kegegapgempitaan mulai meledak; antara lain dialog berikut ini:
Dekan: “Baik, sebelum puasanya resmi dimulai, saya ingin memastikan… siapa nanti saat makan yang nambah paling banyak?”
Dosen 1 yang ada di sudut kanan menjawab: “Itu bukan nambah, Bu. Itu strategi penyimpanan energi jangka panjang.”
Dosen 2 menimpali: “ kami penganut teori antisipasi lapar kronis menjelang Ramadan.”
Seluruh yang ada di ruangan tertawa.
Dosen 3 yang duduk di barisan penulis menyambung: “Bu Dekan sendiri jangan-jangan akan mengambil sambal dua kali.”
Dekan menjawab: “Itu penelitian lapangan. Saya harus memastikan kualitas konsumsi secara kesehatan harus benar-benar terjamin.”
Tertawa meledak lagi di ruangan itu.
Dosen 1: “Ngomong-ngomong, yang ulang tahun hari ini seharusnya traktir lagi.”
Staf yang berulang tahun menyahut: “Lho, ini kan sudah saya niatkan sebagai sedekah awal Ramadan.”
Dosen 2: “Kalau begitu, semoga panjang umur dan rezekinya juga panjang… supaya tahun depan bisa sedekah lebih besar dan banyak.”
Tawa kembali berderai, hangat dan akrab.
Setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ada getar yang berbeda di lingkungan lembaga ini. Udara terasa lebih hangat, bukan hanya karena peralihan waktu spiritual, melainkan juga karena musim hujan yang hadir menyapa. Rintik yang turun perlahan seperti membawa kesejukan, membasuh debu panjang aktivitas, sekaligus menghadirkan suasana reflektif yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di antara rutinitas akademik yang padat, perkuliahan yang melelahkan, serta deretan tugas yang menuntut ketelitian, terselip satu tradisi yang selalu hadir menjelang Ramadan; yaitu “Punggahan”. Sebuah perjamuan sederhana yang menghadirkan makan bersama, doa bersama, dan tawa yang menyatu tanpa sekat jabatan saat menjelang Ramadan.
Punggahan bukan sekadar agenda seremonial yang dicatat dalam kalender institusi. Ia adalah ruang jeda. Sebuah titik hening sebelum perjalanan panjang bernama puasa dimulai. Dalam momen itu, kami seolah berdiri di ambang waktu; menoleh sejenak pada hari-hari yang telah dilalui, sekaligus menatap ke depan dengan niat yang diperbarui. Makanan yang tersaji di meja bukan hanya pengisi perut, tetapi simbol keberkahan dan rasa syukur. Setiap suapan menyiratkan kesadaran bahwa kebersamaan adalah nikmat yang kerap luput kita sadari di tengah kesibukan.
Tahun ini, punggahan terasa lebih istimewa karena beriringan dengan perayaan ulang tahun dua orang staf. Momentum itu menambah lapisan makna pada pertemuan kami. Di tengah doa menyambut Ramadan, terselip doa untuk pertambahan usia. Waktu menjadi tema yang tak terucap namun terasa begitu nyata. Puasa mengajarkan tentang pengendalian diri dan perenungan, sementara ulang tahun mengingatkan tentang perjalanan hidup yang terus bergerak maju. Keduanya bertemu dalam satu ruang, dalam satu siang yang sarat makna.
Tradisi punggahan mengajarkan bahwa kebersamaan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia perlu dirawat, dijaga, dan dihadirkan secara sengaja. Dalam dunia pendidikan tinggi yang kerap dituntut produktif dan kompetitif, ruang-ruang seperti ini menjadi oase. Ia mengingatkan bahwa institusi bukan hanya bangunan dan sistem, melainkan komunitas manusia dengan rasa, harap, dan cerita masing-masing. Ketika duduk bersama dan berbagi makanan, kita sedang meneguhkan nilai gotong royong dan solidaritas yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
Musim hujan yang diingin itu pun seakan menjadi metafora penyucian. Seperti bumi yang disiram air dari langit, hati pun terasa dibasuh oleh niat baik dan doa. Punggahan menjadi pertemuan antara yang lahiriah dan batiniah: antara makan bersama dan perenungan, antara tawa dan kesungguhan, antara pertambahan usia dan kesiapan memasuki bulan suci. Semua berpadu dalam satu suasana yang hangat meski udara di luar terasa dingin.
Pada akhirnya, punggahan bukan hanya tentang makan bersama sebelum berpuasa. Ia adalah pernyataan diam bahwa kami memilih untuk tetap terhubung, saling mendoakan, dan berbagi tawa. Di ambang Ramadan, kami belajar bahwa kekuatan sebuah lembaga tidak hanya terletak pada capaian akademik atau prestasi administratif, melainkan pada kualitas hubungan antarmanusianya. Kebersamaan yang dirawat dengan tulus akan melahirkan lingkungan kerja yang lebih sehat dan bermakna.
Ketika acara usai dan langkah kembali pada rutinitas, ada rasa syukur yang menetap. Hujan masih turun perlahan, seolah menutup hari dengan doa yang tak bersuara. Dalam hati terpatri keyakinan bahwa kami tidak berjalan sendiri. Di antara rintik hujan dan pertambahan usia, di antara doa yang terucap dan tawa yang bergema, punggahan menemukan maknanya: sebagai jembatan antara rutinitas dan refleksi, antara waktu dan kedewasaan, antara individu dan kebersamaan.
Salam Waras dari lantai Lima.
Tulis Komentar